Filosofi Jawa Penuh Makna
CENDIKIA_NEWS | 16 Mei 2023 | Dibaca 32121 kali |

Kegiatan belajar di luar kelas program Paket A pokjar Rumah Tahfid Ummu Khaulah Sendang Agung


Filosofi Jawa Penuh Makna



 Penulis : Andi Noviandi,,MPd _Pegiat Pendidikan 

Masyarakat Jawa kaya akan adat dan praktik budaya. Tradisi dan budaya nasional Indonesia masih didominasi oleh adat dan budaya Jawa. Banyaknya orang Jawa yang pernah menduduki jabatan negara dan ikut serta dalam persoalan-persoalan nasional sejak sebelum kemerdekaan menjadi salah satu alasannya. Orang Indonesia akrab dengan frasa bahasa Jawa dan nama Jawa.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menghentikan masyarakat Jawa untuk mempertahankan ciri khasnya sendiri dalam hal kepribadian, budaya, dan kehidupan sehari-hari.

Masyarakat jawa memiliki filosofi hidup yang sampai saat ini terus menjadi inspirasi penulis salah satunya adalah kalimat;

“Sirna Dalane Pati, Nursipat, Luber Tanpo Kebek”

SIrna dalane pati

“ Hilangkan apa yang harus dihilangkan agar matimu enak, kHusnul Khotimah ( yang dihilangkan adalah penyakit hati ; Sombong, iri, dengki ) “

Nursipat

“Jadilah orang yang bermanfaat, Nursipat adalah bersifat Cahya”

Luber tanpo Kebek

“ Sekaya apapun harta mu, setinggi apapun ilmu dan pangkatmu, jangan terlihat menunjukan diri tetaplah sederhana, supaya sejatinya penyakit hati tidak muncul”

Seiring berkembangnya teknologi, pengetahuan bahasa asing semakin mudah dipelajari dan diakses melalui internet. Namun orang Jawa tetap menjaga kesantunan dalam bertutur kata. Sampai saat ini masih banyak masyarakat Jawa yang berbicara berdasarkan hierarki umur atau dengan siapa mereka berbicara..

Indonesia punya banyak sekali falsafah baik, Salah satunya adalah filosofi hidup orang Jawa. Falsafah Jawa memang terkenal dalam dan penuh makna.

Filosofi jawa yang kaya penuh makna ini pernah di tulis oleh Umar Kayam dengan  judul Buku “ Mangan Ora Mangan Kumpul (makan tidak makan kumpul) yang diterbitkan di Pustaka Utama Grafiti. Ketebalan  458 Halaman, tahun terbit 1991.

Filosofi Jawa ini terkait langsung dengan kehidupan, tetapi sayangnya, cita-cita atau nilai-nilai tersebut mulai hilang akibat oleh masyarakat kontemporer atau disebut tergerus oleh pergaulan modern.

BAGIKAN :